Get Married

Friday, October 26, 2007

Saya, nikah?
Bukan, ini bukan pengumuman pernikahan saya.
Pengen sih (nikah), tapi belum sekarang deh kayaknya, hehehe....

Get Married yang saya maksud itu filmnya Si Hanung.
Filmnya punya tema persahabatan. Dalam film ini, persahabatan dituangkan dalam bentuk solidaritas dan pengorbanan.
Yah, apapun bentuk dan definisi dari persahabatan itu, yang pasti setelah nonton ni film, saya jadi rindu teman-teman saya. Terlebih lagi akhir-akhir ini sobat-sobat di Bandung-Jakarta sering SMS, nanyain "Ded, kapan kesini lagi?"

Holly Shit!!
Kangen banget gue!



Sumber gambar: koleksi pribadi, tapi ga tau siapa yang motoin, yang jelas saya hampir aja tuh diceburin sama anak-anak ke kolam Indonesia Tenggelam.

R S U D

Saturday, October 20, 2007


Pukul 07.30 WIB

Saya udah stand by di RSUD. Biasa, check up. Sudah jadi kebiasaan bagi saya kalo check up datangnya ke RSUD, tapi kalo check in saya lebih suka di hotel, hehehe... Kali itu saya datang kepagian, dapat nomor antrean pertama. Sepanjang sejarah antri-mengantri, baru kali ini saya dapat antrian yang pertama.

Sembari menunggu di ruang yang telah disediakan, terlihat oleh mata kepala saya 2 orang dokter (wanita) muda dengan beberapa orang perawat (juga wanita, tapi sudah tua) tengah asyik ngerumpi. Obrolannya (menurut hemat saya) sangatlah ga penting, yakni mengenai babi-babi yang terpajang dan dijual bebas di restoran-restoran di pulau dewata sana. Berhubung saya ga punya hubungan apa-apa dengan babi, maka saya cuek aja kalo mereka dengan semangatnya terus nyerocos ngomongin babi.
Disudut lain, masih di ruang yang sama, seorang bapak berpakaian kaos oblong nan bolong dan compang-camping tengah berbincang-bincang dengan sesosok perawan tua. Ehm, maksud saya perawat (yang sudah) tua. Secara sengaja saya mendengarkan sebagian percakapan mereka.
"Bapak kembali aja ke loket pendaftaran, ambil lagi aja duitnya" saran si perawat.
"Tapi Bu, apa bisa?" tanya si bapak.
"Bisa. Sekarang Bapak ambil lagi aja duitnya, ya" jelas si perawat.
"Anu Bu, kalo dibiarin aja ga pa pa toh? Saya malu minta duitnya lagi" kata si bapak.
"Loh, itu duit lho. Nyarinya kan susah. Udah, ambil aja" si perawat sekali lagi menyarankan.
"Iya. Makasih ya Bu" si bapak pamit.

Sudah kodratnya waktu untuk terus bergulir (cieeeh...keren banget kalimatnya!).
Selang beberapa lama, mata saya tertuju pada suatu negosiasi berbau nepotisme antara seorang calon pasien berdandan parlente dengan seorang perawat (ya, perawat tua). Setelah mereka melakukan suatu konversasi (konversasi???) si perawat bergegas ngurusin file calon pasien tersebut, nanyain keluhan-keluhan yang diderita, dan....hohohoho....ternyata pasien tersebut naik peringkat menjadi pasien dengan nomor antrian pertama, meninggalkan saya yang jadi melorot di urutan kedua. Padahal, menurut pantauan saya, pasien parlente tersebut sama sekali bukan dalam keadaan darurat.

Pukul 09.30 WIB
Ah itu dia dokternya baru datang. Dan oh, ternyata saya turun lagi jadi pasien dengan nomor antrian ketiga.


Sumber gambar: http://www.piperreport.com

KISAH - KISAH RAMADHAN

Monday, October 8, 2007

MARI BERGOYANG
Saat itu bumi bergoyang bukan gara-gara Inul lagi ngebor. Melainkan disebabkan oleh gempa berkekuatan besar yang berpusat di Sumatera belahan barat. Tercatat 3x goncangan dahsyat yang dapat dirasakan secara nyata oleh saya. Salah satunya di hari perdana puasa. Pada saat itu saya lagi asyik-asyiknya mandi pagi sembari bersiul-siul ria, dan tiba-tiba.....kamar mandi beserta seluruh perangkatnya bergoyang, disusul dengan bunyi-bunyian yang menakutkan. Otomatis donk, saya kenakan handuk saya, dan langsung lari tancap gas menuju halaman depan rumah. Setengah telanjang, cuma pakai handuk, berdiri di depan rumah.
Wow...so sexy!!



KALUNG FLASHDISK
Kebrutalan 2 orang gila, sebut saja namanya Andri dan Dhika, telah mengakibatkan patahnya kalung flashdisk kesayangan saya.
Shit!


TIKUS KANTOR

Saya ga bisa mengelak lagi dari lingkungan kerja saya untuk melakukan mark up, manipulasi kontrak dan kwitansi bernilai jutaan rupiah.
Asal kalian tau aja, di pantat saya sudah mulai berekor.....dan akan bertransformasi menjadi tikus kantor, hehehe...
God, help me!!


Sumber gambar: http://www.metroactive.com

Individu Materialis Kapitalis

Sunday, September 16, 2007

Setiap benda, setiap apa saja yang kita lakukan di jaman ini, semuanya ada harganya. Semuanya dapat dikonversi menjadi nilai-nilai rupiah. Semuanya kini dinilai dengan uang. Mau apa-apa kita butuh duit. Oleh karena itu tak pelak lagi kebutuhan akan duit menjadi meningkat, bahkan menjadi tujuan hidup. 'Hidup untuk mencari duit, mencari duit untuk hidup', begitu slogannya.

Kondisi ini perlahan membawa manusia Indonesia menjadi individu materialis kapitalis. Menjadi manusia yang pamrih, layaknya robot yang hanya bekerja bila koinnya dimasukkan. Segala cara, mulai dari pekerjaan yang baik hingga pekerjaan yang hina, dilakukan untuk mendapatkan duit. 'Cari duit haram aja susah, apalagi yang halal', kata sebagian orang. Beuh, wajar aja kriminalitas dan korupsi merajalela di negeri ini!

Dampak dari terciptanya individu materialis kapitalis adalah berubahnya motif manusia untuk menjalankan profesi pekerjaannya. Risau hati saya melihat PNS bekerja untuk mencari duit. Suatu hal yang salah menurut saya. Kalo memang mau nyari duit, berbisnis lah! Berdagang! Pekerjaan yang bener-bener bertujuan nyari keuntungan. PNS itu tugasnya mengabdi pada masyarakat, bekerja demi negara, berbakti pada bangsa. Suatu visi yang seharusnya dimiliki oleh setiap PNS di negeri ini.

Kerap juga terjadi pergeseran nilai dalam bercita-cita. Teman saya memilih kuliah di kedokteran biar nanti gampang cari duit, biar cepat kaya, biar bisa hidup senang. Padahal tugas dokter itu bukan mengumpulkan duit dari pasien!

Tadi secara tidak sengaja saya mendengar Marshanda memberikan komen tentang tokoh yang diperankannya dalam sinetron Soleha. Katanya, tokoh tersebut menjadi guru ngaji untuk mencari duit, sekalian nyari pahala. Beuh! Jawaban jujur memang, tapi nyelekit. Lagi-lagi motif ekonomi jadi prioritas! Mau dibawa kemana agama ini kalo guru ngajinya niat utamanya nyari duit.

Tapi itulah faktanya. Dunia memaksa kita menjadi individu materialis kapitalis. Mungkin hanya individu yang terlahir dalam keadaan kaya (hati dan materi) saja yang tidak merasakan desakan itu.


Sumber gambar: http://www.istockphoto.com

300 Ga Mutu!

Sunday, September 2, 2007

Udah nonton film yang judulnya 300?
Berikut komen saya terhadap film tersebut.

Sudut pandangnya subjektif
Hiperbolik banget
Penuturan ceritanya eksplisit
Hambar
Sok puitis
Dialognya banyak yang diulang
Sama sekali berbeda dengan imajinasi saya ketika membaca kisahnya di buku sejarah
Sucks!

Sama aja kayak D'Bijis. Kirain keren, eh ternyata mengecewakan banget.